1. Pembahasan yang miskin rujukan
Ini keluhan nomor satu. Seorang reviewer menyebut pembahasan yang hanya bersandar pada satu sampai dua rujukan sebagai kelemahan fundamental, dan menuliskannya dengan kata mengkhawatirkan. Pembahasan itu bukan pengulangan hasil. Di sanalah temuan Anda diadu dengan temuan orang lain.
2. Celah riset yang hanya bersandar pada perbedaan konteks
Menyatakan bahwa studi terdahulu meneliti sektor swasta sementara studi Anda di sektor publik, sering dinilai belum cukup kuat. Jelaskan mengapa perbedaan konteks itu mengubah cara kerja fenomenanya, bukan sekadar menyebut lokasinya berbeda.
3. Metode yang tidak bisa ditelusuri ulang
Reviewer akan bertanya sangat rinci: bagaimana jumlah sampel ditentukan, bagaimana responden dihubungi, bagaimana bias dikendalikan, berapa lama pengumpulan data dan mengapa. Untuk riset kualitatif, panduan pertanyaan wawancara beserta alasan tiap pertanyaan juga diminta.
4. Kajian literatur yang merangkum, bukan menimbang
Menyusun ringkasan studi terdahulu secara berurutan tidak dianggap tinjauan kritis. Reviewer juga secara khusus meminta dimunculkannya temuan yang bertolak belakang, bukan hanya yang mendukung hipotesis Anda.
5. Pernyataan etika riset yang tidak ada
Satu editor menyatakan terus terang bahwa jurnalnya tidak menerbitkan paper yang tidak dapat membuktikan kesesuaian dengan kebijakan etik institusi. Siapkan pernyataan ini sejak menyusun metode, jangan menunggu diminta.