Belajar Bersama Dara
Sampul Cogent Psychology
Q3 Scimago Terbit 2025 Cogent Psychology · Taylor and Francis

Enhancing well-being in hybrid work: the crucial role of organizational support for Indonesia's State Civil Apparatus

Despinur Dara (penulis pertama), Susan Febriantina (Universitas Negeri Jakarta), dan Suwatno Suwatno (Universitas Pendidikan Indonesia).

Vol. 12 No. 1 (2025), artikel 2454084 · Open access · 6500+ views, 7 sitasi · DOI: 10.1080/23311908.2025.2454084 · Halaman jurnal

Bagikan

Ringkasan

Paper pembuka rangkaian riset hybrid work ini menguji dampak kerja hibrida, perceived organizational support, dan job burnout terhadap well-being ASN Indonesia. Hasilnya membentuk cerita yang utuh: kerja hibrida ternyata menaikkan burnout, tetapi dukungan organisasi menurunkannya sambil menguatkan well-being. Manfaat kerja hibrida bagi well-being baru muncul ketika dimoderasi dukungan organisasi.

Satu kalimat merangkumnya. Kerja hibrida tidak otomatis baik atau buruk bagi pegawai, dan dukungan organisasilah yang menentukan arahnya.

Latar belakang

Sejak Mei 2022, ASN Indonesia yang terbiasa bekerja dari rumah mulai ditarik kembali ke kantor, dan lahirlah skema hibrida yang menggabungkan keduanya. Transisi ini tidak mulus: koordinasi tim melalui interaksi virtual terbatas, kompetensi digital tidak merata, dan fasilitas kerja di rumah sering tidak memadai. Ada satu fakta yang membuat konteks Indonesia berbeda. Usia ASN didominasi kelompok 51 sampai 60 tahun, sehingga potensi kesenjangan digitalnya besar. Literasi digital yang rendah bukan hanya menghambat produktivitas, tetapi juga menaikkan risiko burnout karena frustrasi berkepanjangan menghadapi teknologi, sementara hilangnya supervisi langsung mengaburkan batas kerja dan kehidupan pribadi.

Research gap

Studi kerja hibrida sebelumnya terkonsentrasi di sektor swasta dan konteks negara maju, dengan fokus pada tantangan umum. Bagaimana kerja hibrida memengaruhi well-being dan burnout di sektor pemerintahan Indonesia, dengan tantangan khasnya berupa kesenjangan literasi digital dan struktur birokrasi, masih sangat jarang diteliti. Celah itulah yang diisi, sambil menguji ulang temuan-temuan sebelumnya tentang kelelahan akibat kerja jarak jauh berkepanjangan pada populasi yang belum pernah diuji.

Novelty

Kebaruannya ada pada cakupannya. Dampak ganda kerja hibrida di sektor publik Indonesia diperiksa dalam satu model utuh, yang memuat dukungan organisasi, kerja hibrida, burnout, dan well-being. Paper ini tidak menganggap fleksibilitas otomatis baik. Kerja hibrida dibiarkan berperan ganda, bisa menguntungkan bisa merugikan, tergantung cara mengelolanya. Keberanian menguji dua arah inilah yang membuahkan temuan paling menariknya.

Landasan teori

Payung teorinya adalah dual factor theory dari Herzberg, yang memandang reaksi orang terhadap perubahan sebagai hasil tarik-menarik dua kelompok faktor: pendukung dan penghambat. Dalam konteks ini, faktor pendukungnya berupa teknologi yang memadai, kebijakan organisasi yang suportif, dan manfaat fleksibilitas; penghambatnya berupa literasi digital yang rendah, resistensi terhadap perubahan, dan kekhawatiran soal keseimbangan hidup. Dari kerangka itu diturunkan enam hipotesis: dukungan organisasi berpengaruh positif ke kerja hibrida (H1) dan well-being (H2) serta negatif ke burnout (H3); kerja hibrida berpengaruh positif ke well-being (H4) dan negatif ke burnout (H5); dan burnout berpengaruh negatif ke well-being (H6). Konstruknya diukur dengan instrumen mapan: POS Questionnaire, Flexible Work Options Questionnaire, Maslach Burnout Inventory, dan General Health Questionnaire.

Metode

Populasinya ASN pusat sebanyak 978.652 orang; teknik Slovin menetapkan target 384 responden, dan yang terkumpul malah 533 respons valid selama tiga bulan pengumpulan data melalui unit SDM instansi. Ada dua keputusan metodologis yang layak dipelajari penulis pemula. Pertama, skala Likert 4 poin dipilih secara sadar untuk menghilangkan opsi netral, memaksa responden mengambil sikap. Kedua, ketika uji normalitas menunjukkan data tidak normal, estimasi structural equation modeling dialihkan dari maximum likelihood ke generalized least squares yang lebih tahan terhadap pelanggaran asumsi. Model diuji dengan CB-SEM di LISREL, melalui confirmatory factor analysis dengan seluruh loading di atas ambang, composite reliability di atas 0,7, dan kecocokan model yang baik (RMSEA 0,070; CFI 0,940; GFI 0,921).

Temuan

Lima dari enam hipotesis terbukti, dan satu yang tidak terbukti itulah bintang utamanya. Kerja hibrida diprediksi menurunkan burnout (H5), tetapi data menunjukkan sebaliknya. Koefisiennya positif 0,196 dan signifikan, artinya kerja hibrida malah menaikkan burnout. Sementara itu dukungan organisasi terbukti perkasa: efeknya ke well-being paling kuat di seluruh model (koefisien 0,647), menurunkan burnout dengan koefisien negatif 0,425, dan mendorong adopsi kerja hibrida. Kerja hibrida tetap menyumbang well-being secara positif meski kecil (0,0995), dan burnout menggerus well-being (negatif 0,162). Pesan gabungannya jelas: fleksibilitas tanpa dukungan adalah resep stres, dan dukungan organisasilah penentu apakah kerja hibrida berujung sejahtera atau kelelahan.

Kontribusi

Secara teoretis, temuan ini memperkaya dual factor theory dengan menunjukkan bahwa faktor yang sama (fleksibilitas) bisa berpindah peran dari pendukung menjadi penghambat bila tidak dikelola. Temuan ini juga menantang sebagian klaim teori job demands-resources bahwa kontrol kerja yang lebih besar selalu menurunkan burnout. Secara praktis, rekomendasinya konkret: kebijakan jam kerja yang tegas termasuk hak untuk tidak terhubung di luar jam kerja (right to disconnect), infrastruktur kerja jarak jauh yang memadai, program kesejahteraan berisi pelatihan manajemen stres dan konseling psikologis, serta komunikasi yang konsisten. Paper ini kemudian menjadi fondasi dua paper lanjutan di etalase ini: studi fenomenologi JWAM yang menggali sisi makna, dan konsep burnout latency IJOA yang menteorikan fase senyapnya.

Perjalanan review

Perjalanan paper ini mengajarkan kesabaran: setelah submit awal Agustus 2024, paper keluar untuk review tanggal 10 Agustus dan hasilnya baru datang pertengahan Desember, sekitar empat setengah bulan menunggu. Itu normal, jangan panik ketika status di sistem diam berbulan-bulan. Begitu hasil keluar, ritmenya berbalik cepat: dua putaran revisi dirampungkan dalam tiga minggu di tengah libur akhir tahun, accepted 11 Januari 2025, dan terbit online 21 Januari 2025. Kini artikelnya sudah dibaca lebih dari 6500 kali dan dikutip 7 artikel lain.

Submit
5 Agu 2024
Hasil review
15 Des 2024
Revisi 1
31 Des 2024
Revisi 2
6 Jan 2025
Accepted
11 Jan 2025

Keputusan revisi datang dari Editor-in-Chief Prof. Daryl O'Connor dengan tenggat 14 Januari 2025, disertai dua syarat administratif yang khas Taylor and Francis: surat pengantar yang menjelaskan respons atas setiap komentar reviewer, dan seluruh perubahan di paper harus ditandai dengan sorotan kuning. Paper revisi diserahkan jauh sebelum tenggat, dan diterima 11 Januari 2025, tiga hari sebelum batas waktu.

Catatan reviewer 1 fokus ke ketelitian statistik

Reviewer pertama memuji koherensi teori dan konteks di pendahuluan, lalu langsung menohok bagian yang paling menentukan nasib sebuah paper: research gap-nya dinilai belum kuat. Argumen bahwa studi terdahulu berfokus pada sektor swasta sementara studi ini pada sektor publik dianggap belum cukup menjadi celah literatur yang meyakinkan. Kajian literaturnya pun dinilai terbatas cakupannya, kurang dalam dan kurang luas, sehingga perlu diperkaya dengan analisis studi, teori, dan perdebatan kunci di bidangnya.

Sisanya adalah rentetan pertanyaan metodologis yang sangat teknis. Reviewer menyoroti kejanggalan statistik deskriptif yang nilai maksimumnya hanya 4 padahal skalanya tampak Likert 5 poin, dan mempertanyakan apakah ini soal pengumpulan, pengodean, atau penafsiran data. Ia meminta penambahan nilai varians, kurtosis, dan skewness karena standar deviasi saja tidak cukup untuk menilai normalitas data. Ia juga menanyakan perangkat lunak apa yang digunakan untuk SEM dan apakah pendekatannya CB-SEM atau PLS-SEM, apakah dilakukan exploratory factor analysis dan confirmatory factor analysis, berapa nilainya, dan adakah butir yang dibuang karena loading rendah. Terakhir, ia meminta bagian keterbatasan dan arah riset ke depan ditambahkan sebelum kesimpulan.

Catatan reviewer 4 fokus ke struktur paper

Reviewer keempat membuka dengan nada apresiatif dan menutup dengan penilaian bahwa studi ini ditulis baik dan sistematis, hanya perlu beberapa perbaikan. Tetapi delapan butir catatannya sangat rinci soal arsitektur paper. Pendahuluan diminta ditata ulang dengan resep yang eksplisit: satu paragraf memperkenalkan topik dan konsep utama, lalu dua sampai tiga paragraf yang menegaskan research gap, problem statement, dan tujuan riset. Seluruh judul dan subjudul diminta diberi penomoran agar mudah dibaca. Teori dual factor dan hipotesis diminta disatukan di bawah satu judul induk, dan model konseptual dipindahkan dari bagian metode ke bagian pengembangan hipotesis.

Bagian metode diminta menjawab lima pertanyaan konkret: bagaimana jumlah responden ditentukan, bagaimana mereka dihubungi, bagaimana bias dikendalikan, apakah datanya swalapor, dan berapa lama pengumpulan data berlangsung berikut alasannya. Bagian diskusi diminta diganti namanya menjadi diskusi dan implikasi, dengan tambahan implikasi sosial mengingat topiknya kesejahteraan pegawai. Terakhir, keterbatasan dan riset lanjutan diminta dipisahkan dari kesimpulan.

Menariknya, di sinilah kedua reviewer berselisih. Reviewer 1 meminta bagian keterbatasan diletakkan sebelum kesimpulan, sedangkan reviewer 4 memintanya setelah kesimpulan. Penulis memilih menempatkannya sebelum kesimpulan dan menjelaskan pilihannya di surat pengantar. Ini situasi yang lazim dan penting dipahami: ketika reviewer saling bertentangan, penulis tidak wajib menuruti keduanya, cukup memilih satu dan memberi justifikasi yang masuk akal.

Jejak revisi yang bisa dilacak di paper final bandingkan dengan PDF terbitnya

Halaman ini menjadi contoh paling gamblang tentang bagaimana revisi mengubah paper, karena hampir setiap permintaan reviewer meninggalkan jejak yang bisa dicek langsung di PDF terbitnya. Kejanggalan skala yang dipertanyakan reviewer 1 dijawab dengan paragraf khusus di bagian analisis deskriptif yang menjelaskan bahwa skala 4 poin dipilih secara sengaja untuk menghapus opsi netral dan memaksa responden mengambil sikap. Permintaan uji normalitas dijawab dengan pelaporan skewness, kurtosis, dan nilai chi-square gabungan, yang berujung pada keputusan metodologis penting: karena data terbukti tidak normal, estimasi dialihkan ke generalized least squares.

Pertanyaan tentang perangkat lunak dijawab dengan paragraf yang menyatakan penggunaan CB-SEM melalui LISREL beserta alasannya. Pertanyaan tentang EFA dijawab dengan menjelaskan mengapa yang digunakan CFA. Studi ini menguji model teoretis yang sudah mapan, bukan mencari struktur baru. Permintaan bagian keterbatasan dipenuhi lewat bagian tersendiri sebelum kesimpulan.

Dari sisi reviewer 4, penomoran judul kini rapi dari bagian 1 sampai 7, teori dan hipotesis disatukan di bawah bagian 2, dan model konseptualnya pindah ke subbagian 2.3. Bagian 5 berganti nama menjadi diskusi dan implikasi, lengkap dengan implikasi teoretis, praktis, dan kebijakan. Bagian metodenya kini menjelaskan teknik Slovin untuk menentukan ukuran sampel, cara menghubungi responden lewat unit SDM beserta pengingatnya, penyamaran identitas untuk menekan jawaban yang sekadar normatif, serta alasan mengapa data dikumpulkan selama tiga bulan.

Pelajaran utamanya sederhana. Catatan reviewer yang tampak seperti daftar tuntutan yang melelahkan sebenarnya peta perbaikan yang sangat rinci, dan menjawabnya satu per satu di dalam paper jauh lebih meyakinkan daripada berdebat di surat balasan.

Akses paper

Paper ini open access di bawah lisensi Creative Commons, bebas diunduh dan disebarluaskan dengan atribusi.