Ringkasan
Kebanyakan studi kerja hibrida sibuk mengukur produktivitas. Paper ini mengambil jalan berbeda: mengeksplorasi bagaimana Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia menafsirkan dan membangun makna kerja hibrida, dengan menekankan dimensi simbolik, intersubjektif, dan kontekstualnya. Hasilnya memperlihatkan dukungan organisasi tidak berhenti sebagai kebijakan formal. Maknanya terbentuk bersama-sama, lewat kebiasaan institusi dan harapan yang tumbuh dalam keseharian.
Latar belakang
Kerja hibrida di birokrasi Indonesia sudah menjadi kebijakan resmi, bukan sekadar wacana. Kementerian PANRB melembagakannya lewat Surat Edaran Nomor 24 Tahun 2021, dan survei BKN tahun 2022 mencatat 95,7 persen ASN percaya kerja hibrida bisa meningkatkan fleksibilitas dan layanan. Tetapi di balik optimisme itu, implementasinya penuh persoalan: koordinasi lintas unit tersendat, beban kerja digital menumpuk, kriteria evaluasi kinerja kabur, dan akses teknologi tidak merata. Kebijakan yang sama, dialami sangat berbeda oleh orang yang berbeda.
Research gap
Riset kerja hibrida di Indonesia, termasuk paper Cogent Psychology di etalase ini, umumnya menguji hubungan sebab akibat antara kerja hibrida, produktivitas, dan dampak psikologisnya. Yang luput dari model kausal itu adalah pengalaman subjektif: bagaimana ASN menafsirkan fleksibilitas, membaca ketulusan dukungan, dan menegosiasikan ekspektasi peran dalam konteks organisasinya. Proses pemaknaan seperti ini hanya bisa ditangkap pendekatan fenomenologis, dan di situlah paper ini berdiri.
Novelty
Ada tiga sumbangan yang disebutkan terang-terangan sejak awal. Pertama, memperluas teori perceived organizational support dengan menunjukkan bahwa dukungan simbolik dan dukungan material ditafsirkan berbeda di birokrasi hibrida. Kedua, melengkapi model job demands-resources dengan cara pandang fenomenologis tentang bagaimana tuntutan dan sumber daya itu dirasakan. Ketiga, menghadirkan bukti dari Indonesia yang selama ini kurang terwakili di literatur. Temuan kunci paper ini lahir dari satu pembedaan sederhana tetapi tajam: antara dukungan yang diucapkan dan dukungan yang benar-benar diwujudkan.
Landasan teori
Fondasi utamanya fenomenologi sosial Alfred Schutz: konsep stock of knowledge, tipifikasi, dan intersubjektivitas digunakan untuk membaca bagaimana ASN mengonstruksi makna kerja hibrida dari pengalaman dan norma institusinya. Schutz membedakan apa yang dialami langsung, misalnya menangani tugas digital sehari-hari, dari makna yang terbentuk lewat interaksi sosial dan budaya organisasi. Kerangka interpretif ini kemudian diintegrasikan dengan dua teori arus utama, perceived organizational support dan job demands-resources, sehingga struktur dan makna bisa dibaca dalam satu model. POS dan JD-R memotret kondisi apa adanya, Schutz memotret bagaimana kondisi itu dirasakan.
Metode
Sepuluh ASN dipilih secara purposive dengan kriteria ketat: minimal enam bulan sampai satu tahun menjalani kerja hibrida, dengan posisi dan keterlibatan yang relevan. Data digali lewat wawancara mendalam semi-terstruktur (panduannya diturunkan dari kerangka POS dan JD-R), observasi partisipatoris di rapat virtual maupun tatap muka, dan analisis dokumen kebijakan termasuk SE PANRB 24/2021. Analisis tematik mengikuti Braun dan Clarke dengan lensa Schutzian, dikelola di ATLAS.ti. Kredibilitasnya dijaga dengan tiga cara: menyilangkan tiga sumber data, mengembalikan hasil ke informan untuk dicek ulang, dan menyimpan jejak audit. Saturasi tematik tercapai di wawancara kedelapan sampai kesembilan, bukti bahwa sepuluh informan memadai untuk analisis fenomenologis.
Temuan
Empat tema saling terkait muncul dari data, dan suara informannya tajam-tajam. Pada tema fleksibilitas, satu informan merasa lebih produktif di rumah sementara informan lain memilih kantor karena datanya tersimpan di sana. Hal yang sama dimaknai berbeda, tergantung situasi hidup masing-masing. Pada tema dukungan organisasi muncul disonansi paling menohok: "Ucapan terima kasih sederhana sangat berarti, tapi tidak ada dukungan material," kata seorang informan; yang lain menyebut semua diserahkan ke inisiatif pribadi, tanpa bantuan internet dan tanpa kebijakan yang jelas. Tema ketiga adalah kaburnya batas waktu. Pesan WhatsApp larut malam, rapat Zoom di luar jam kerja, dan tidak ada saklar untuk berhenti bekerja. Tema keempat adalah koordinasi yang goyah. Teknologinya ada, tetapi aturan mainnya tidak, sehingga kerja bersama kehilangan ritme.
Bagian diskusinya menambah satu hal yang khas Indonesia: budaya ewuh pakewuh alias keengganan berhadapan dengan atasan membuat pengakuan simbolik terasa makin bernilai, sambil menghambat pegawai menyuarakan kebutuhan sumber daya yang belum terpenuhi. Celah antara niat kebijakan dan kenyataan lapangan pun terus lestari.
Kontribusi
Secara teoretis, paper ini menunjukkan apresiasi baru terasa memotivasi kalau sejalan dengan harapan bersama. Pujian yang tidak ditopang perbaikan nyata akan dibaca sebagai basa-basi dan malah menggerus kepercayaan. Secara praktis, ada empat rekomendasi yang bisa langsung dijalankan instansi. Pertama, kebijakan jam kerja dan evaluasi kinerja yang jelas. Kedua, infrastruktur teknologi yang merata dan bisa digunakan semua orang. Ketiga, dukungan yang nyata berupa perangkat, koneksi internet, dan tunjangan. Keempat, protokol komunikasi yang menjembatani pegawai jarak jauh dengan pegawai kantor.
Perjalanan review
Ini rekor tercepat di etalase ini, hanya sekitar lima minggu dari submit sampai accepted, dengan dua penyerahan revisi yang berdekatan. Perbandingannya dengan paper IJOA yang butuh lima bulan menunjukkan betapa bervariasinya tempo review antar jurnal, bahkan di penerbit yang sama. Ada satu hal yang jarang disadari penulis pemula. Judul paper ini berubah selama proses review. Paper masuk dengan judul "Making Sense of Organizational Support in the Hybrid Work Era: Lessons from the Public Sector", lalu atas masukan reviewer dipertajam menjadi judul finalnya sekarang. Judul bukan barang keramat; ia ikut direvisi seperti bagian paper lainnya.
Catatan reviewer 1 revisi substantif, sangat rinci
Reviewer pertama mengapresiasi struktur dan argumentasi paper, tetapi menuntut ketajaman di titik yang paling sentral: kerangka fenomenologi Schutz. Ia meminta artikulasi kerangka itu diperjelas, menagih sumber figur Schutz-Husserl yang ternyata belum tercantum di daftar referensi, dan menyuruh penulis kembali ke sumber asli teori JD-R dan POS agar evaluasi teorinya lebih bertenaga. Konteks juga disorot: jangan memakai artikel berkonteks Australia untuk menopang argumen tentang Indonesia, dan artikulasi konteks sektor publik Indonesia harus diperkuat.
Di sisi metode, pertanyaannya sangat rinci dan layak dicatat siapa pun yang menulis riset kualitatif. Apakah ada wawancara uji coba lebih dulu. Apa arti kalimat partisipan dipilih sesuai tujuan riset kalau dijabarkan langkahnya. Wawancaranya daring atau tatap muka, dan apa untung ruginya. Siapa yang mewawancarai, dan bagaimana kedudukan peneliti dijaga agar tidak membiaskan jawaban. Terakhir, analisis apa yang digunakan untuk observasi dan dokumen kebijakannya. Reviewer juga menunjuk ketidakselarasan antara kontribusi yang dijanjikan di abstrak dengan yang disimpulkan di akhir, menyarankan penambahan kerangka di ujung diskusi, dan mengusulkan perubahan judul, antara lain menghapus frasa "civil servants" yang dianggap tidak perlu.
Catatan reviewer 2 positif dengan catatan sampel
Reviewer kedua jauh lebih ringkas: tulisan dinilai jernih dan padat, teori tepat dan tersambung baik, serta implikasi praktisnya disebut sebagai kekuatan terbesar paper karena arahnya bisa langsung dieksekusi pemimpin organisasi. Catatan utamanya klasik untuk riset kualitatif: sepuluh informan dianggap kecil dan membatasi generalisasi, dan ia ingin tahu lebih banyak demografi partisipan seperti usia, gender, dan jenis pekerjaan.
Pelajarannya: sampel kecil bukan penghalang terbit di jurnal Q1 selama klaim kontribusinya proporsional dan limitasinya diakui terbuka. Yang tidak bisa ditawar adalah kejelasan kerangka teori dan transparansi prosedur.
Akses paper
Paper ini open access, bebas diunduh dan disebarluaskan dengan atribusi.
