Ringkasan
Paper ini mengevaluasi efektivitas Nadine, aplikasi naskah dinas elektronik yang diimplementasikan Kementerian Keuangan. Dengan data dari lebih dari 2500 pegawai, studi ini mengukur kepuasan pengguna, mengidentifikasi area perbaikan, dan menguji hubungan antara keberhasilan kebijakan dan kinerja aplikasinya. Kesimpulannya menggembirakan, tetapi juga menuntut tindak lanjut. Kepuasannya tinggi, tetapi antarmuka dan navigasinya masih perlu dibenahi.
Latar belakang
Transformasi digital menjadi agenda pemerintah di seluruh dunia, dengan Estonia dan Korea Selatan sebagai contoh keberhasilan yang sering dikutip. Indonesia menghadapi tantangan berbeda: kesiapan infrastruktur dan literasi digital masih timpang, dan hanya sekitar 65 persen ASN yang mampu mengoperasikan aplikasi digital. Di tengah kondisi itu, Kementerian Keuangan menerapkan Nadine untuk menggantikan proses naskah dinas manual dengan sistem yang lebih cepat, efisien, dan aman. Pertanyaan evaluatifnya sederhana tetapi penting: seberapa efektif sistem ini di mata penggunanya sendiri, dan apa hubungannya dengan keberhasilan kebijakan yang menaunginya.
Research gap
Ada dua celah yang diisi paper ini. Pertama, riset digitalisasi sektor publik didominasi konteks negara maju dengan infrastruktur dan literasi digital yang jauh lebih baik, sehingga tantangan khas negara berkembang kurang terwakili. Kedua, dan ini yang lebih jarang disadari, literatur cenderung mengabaikan dampak kebijakan digitalisasi pada level mikro organisasi seperti satu kementerian atau lembaga. Paper ini masuk tepat ke level itu, dengan satu aplikasi konkret di satu kementerian.
Novelty
Keunikannya ada pada dua hal. Pertama, penerimaan teknologi di sistem administrasi publik Indonesia diperiksa dengan skala data yang jarang dijumpai. Kedua, dua metode yang jarang digunakan bersama digabungkan. Importance-performance analysis digunakan untuk memetakan prioritas perbaikan ke dalam empat kuadran. Analisis korelasi dan regresi digunakan untuk menguji kaitan antara keberhasilan kebijakan dan kinerja aplikasinya. Hasilnya bukan sekadar skor kepuasan, tetapi peta tindakan yang bisa langsung digunakan pengelola sistem.
Landasan teori
Dua teori adopsi teknologi dipadukan. Innovation diffusion theory dari Rogers menyumbang lima karakteristik yang memengaruhi adopsi inovasi: relative advantage, compatibility, complexity, trialability, dan observability, yang masing-masing diterjemahkan menjadi butir pertanyaan konkret tentang Nadine. UTAUT dari Venkatesh melengkapinya dengan empat konstruk perilaku: performance expectancy, effort expectancy, social influence, dan facilitating conditions. Gabungan keduanya memungkinkan paper menangkap faktor individual dan organisasional, sesuatu yang penting dalam lingkungan birokrasi yang hierarkis.
Metode
Survei kuantitatif atas 2.551 pegawai Kemenkeu dari berbagai unit kerja, dipilih secara purposive agar hanya menjaring mereka yang benar-benar berpengalaman memakai Nadine. Representasinya luas: Direktorat Jenderal Kekayaan Negara 36 persen, Sekretariat Jenderal 21 persen, sisanya tersebar ke Bea Cukai, Perbendaharaan, Pajak, Anggaran, dan unit lainnya, dengan responden berusia di atas 45 tahun sebagai kelompok terbesar. Instrumen dibagi dua rumpun, aspek kebijakan dan aspek aplikasi, dengan urutan pertanyaan diacak untuk menekan bias urutan dan jaminan anonimitas untuk mendorong jawaban jujur.
Temuan
Indeks kepuasan penggunanya sangat tinggi dan konsisten: 4,70 untuk kebijakan dan 4,67 untuk aplikasi pada skala 5, masuk kategori excellent di hampir seluruh wilayah Indonesia, dari Sumatra sampai Papua, dengan Jakarta sedikit di bawahnya. Tetapi pemetaan kuadrannya yang paling berguna. Fitur pengembangan layanan dan kemudahan penggunaan dinilai sangat penting namun kinerjanya belum memuaskan, artinya inilah prioritas perbaikan pertama. Sebaliknya, kemudahan akses, kecepatan proses, dan dukungan budaya nirkertas sudah memuaskan dan perlu dipertahankan. Pada aspek kebijakan, pengguna merasa masih ada kesenjangan pemahaman soal tujuan dan standardisasi penulisan naskah dinas, sementara kelancaran komunikasi tertulis sudah menjadi kekuatan.
Temuan paling strategisnya adalah korelasi antara aspek kebijakan dan aspek aplikasi yang mencapai 0,859, tergolong sangat kuat, dengan koefisien determinasi sekitar 73,79 persen. Kebijakan dan sistem yang menjalankannya ternyata satu kesatuan yang saling menentukan, bukan dua urusan yang terpisah.
Kontribusi
Bagi praktisi pemerintahan, rekomendasinya konkret. Perbaiki antarmuka dan navigasi lebih dulu, karena di situ jarak terbesar antara harapan pengguna dan kenyataannya. Sesudah itu perbanyak lokakarya, siapkan materi edukasi, dan jaga agar kanal umpan balik tetap hidup. Alokasi sumber daya pun bisa digeser dari area yang sudah baik namun kurang penting ke area yang kritikal. Bagi akademisi, paper ini menambah bukti empiris teori difusi inovasi dan UTAUT dari konteks birokrasi negara berkembang, dengan pesan yang bisa digeneralisasi, bahwa memperbaiki kualitas sistem adalah investasi kebijakan, bukan sekadar urusan teknis TI.
Perjalanan review
Berbeda dengan jurnal internasional yang mengirim surat keputusan lewat email, Indonesian Treasury Review memakai sistem OJS. Seluruh percakapan antara penulis, editor, dan pengelola tercatat di sana beserta tanggalnya, jadi perjalanan paper ini bisa ditelusuri hari per hari.
Yang bisa dipelajari dari linimasa ini tiga hal
Pertama, penulis membalas sangat cepat, dan itu memangkas total waktunya. Hasil review ronde pertama turun 28 Agustus, revisinya diserahkan 31 Agustus, hanya tiga hari. Hasil ronde kedua turun 7 Oktober, revisinya masuk 9 Oktober, dua hari. Dari total sekitar empat setengah bulan, waktu yang benar-benar digunakan penulis kurang dari seminggu. Sisanya menunggu, dan itu memang di luar kendali penulis.
Kedua, ada tahap proofread resmi yang tidak dimiliki banyak jurnal. Pengelola meminta kesediaan penulis menjalani proses proofread sejak 22 Juli, jauh sebelum hasil review turun. Permintaan proofread yang sebenarnya baru datang 25 Oktober dan hasilnya diserahkan 2 November. Ini tahapan tersendiri sebelum penyuntingan, dan bagi paper berbahasa Inggris yang ditulis penulis Indonesia, tahap ini sangat menolong.
Ketiga, diterima bukan berarti langsung terbit. Paper dinyatakan selesai disunting pada 20 November 2024, tetapi baru tayang di Vol. 10 No. 1 tahun 2025. Jeda dari selesai sampai tayang itu wajar, dan perlu diperhitungkan bila Anda mengejar tenggat pelaporan.
Berbeda dengan jurnal internasional di etalase ini yang memakai surat keputusan naratif, Indonesian Treasury Review memakai formulir penelaahan sejawat yang terstruktur. Penelaahnya mengisi tiga kotak: ringkasan, isu utama, dan isu minor. Formatnya membuat masukan lebih mudah ditindaklanjuti karena setiap catatan sudah menunjuk halaman berapa yang harus diperbaiki.
Ada satu hal yang layak dicatat sebelum masuk ke isinya. Judul paper ini berubah selama proses review. Paper masuk dengan judul "Optimizing digital transformation: evaluating the effectiveness of the Nadine system at Indonesia's MoF", lalu terbit dengan judul yang jauh lebih spesifik menyebut metodenya. Ini pola yang sama dengan paper JWAM di etalase ini. Judul memang bukan barang keramat, dan menyebut metode di judul membuat artikel lebih mudah ditemukan orang yang mencari pendekatan serupa.
Ringkasan penilaian nadanya positif
Penelaah menilai artikel ini ditulis komprehensif dan secara umum sudah mengikuti kaidah penulisan ilmiah, dengan beberapa ruang perbaikan. Satu catatan yang gampang dilupakan penulis Indonesia yang menulis dalam bahasa Inggris: karena artikelnya sepenuhnya berbahasa Inggris, penelaah meminta dilakukan proof read untuk memastikan mutu tulisannya sepadan dengan bahasa yang dipilih.
Tiga isu utama semuanya soal alasan di balik pilihan
Menariknya, ketiga catatan utama penelaah menuju satu arah yang sama. Yang dipersoalkan bukan hasilnya, tetapi alasan di balik setiap pilihan yang diambil penulis. Ini keluhan yang sangat sering muncul di seluruh dokumen review di etalase ini.
Pada kajian literatur, halaman 2. Penelaah meminta ditambahkan penjelasan mengapa penulis memakai Innovation Diffusion Theory dan UTAUT. Alasannya disebut terang-terangan: penjelasan itu menunjukkan penulis sudah membaca literatur yang cukup sebelum menentukan pilihan. Menyebut nama teori saja tidak cukup, harus jelas mengapa teori itu yang digunakan dan bukan yang lain.
Pada bagian populasi dan sampel, halaman 6. Penulis diminta menjelaskan mengapa metode pengambilan sampel itu yang dipilih dibanding metode lain. Sekali lagi bukan mempersoalkan sampelnya, tetapi menagih alasannya.
Pada bagian teknik analisis, halaman 6. Penelaah meminta ditambahkan keterangan bagaimana survei daring itu dijalankan, supaya bisa dinilai apakah bias control yang digunakan sudah memadai dan hasilnya tetap objektif. Untuk survei atas 2.551 pegawai, ini pertanyaan yang wajar dan penting.
Isu minor tidak ada
Kotak isu minor diisi dua kata saja: tidak terdeteksi. Artinya tidak ada persoalan pada narasi yang ambigu, angka, satuan analisis, tabel, gambar, maupun cara mengutip. Untuk artikel sepanjang ini, kotak minor yang kosong adalah pertanda papernya memang sudah rapi sejak diserahkan.
Yang bisa dipelajari dari perbandingan ini jurnal nasional versus internasional
Bandingkan catatan ini dengan yang diterima paper-paper Scopus di etalase yang sama. Di IJOA ada penelaah yang merekomendasikan penolakan dan menulis bahwa buku kaum Stoa lebih mudah diikuti. Di Evidence-based HRM ada penelaah yang menyatakan tidak ada jalan ke depan bila keterwakilan sampel tidak dibuktikan. Di JIEB ada penelaah yang menegur gaya tulisan karena terasa seperti keluaran aplikasi kecerdasan buatan.
Di sini nadanya jauh lebih tenang, isu minornya kosong, dan ketiga catatan utamanya bisa dijawab dengan menambahkan penjelasan, bukan dengan merombak model atau mengulang analisis.
Perbedaan ini bukan berarti jurnal nasional kurang serius. Yang membedakan adalah tingkat kesulitan dan tekanannya. Karena itulah jurnal nasional terakreditasi menjadi tempat berlatih yang baik. Anda melewati proses penelaahan yang sungguhan, mendapat catatan yang spesifik dan menunjuk halaman, tetapi dengan tekanan yang masih terkelola. Setelah terbiasa menjawab catatan seperti ini, catatan dari jurnal internasional terasa lebih masuk akal.
Akses paper
Paper ini open access dengan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0, bebas diunduh dan disebarluaskan dengan atribusi.
